Wednesday, January 10, 2018

Review buku Filsafat Umum Asmoro Achmadi

Identitas buku

Judul Buku : Filsafat Umum
Pengarang : Asmoro Achmadi
Penerbit : PT Rajagrafindo Persada
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 142 hal.

 Nama : Salma Monica
 NIM : 1703130064
 Prodi : IQT



A. PENDAHULUAN
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio.
Tujuan studi filsafat adalah mengantarkan seseorang ke dalam dunia filsafat, sehingga minimal dia dapat mengetahui apakah filsafat, maksud dan tujuannya.
Menurut Prof. Dr. Notonagoro, yang dikenal sebagai ilmuwan filsafat Indonesia dan ahli piker filsafat Pancasila, studi filsafat di maksudkan untuk “pendidikan mental”. Pendidikan mental yang dimaksudkan adalah cara atau bentuknmentalitas filsafat yang memuat tujuan umum dan tujuan khusus.
Adapun tujuan umumnya adalah menjadikan manusia yang susila. Pengertian “susila” di sini terdapat daalam ruang lingkup tertentu sesuai dengan tempat dan aturan yang ada. Orang yang susila dipandang sebagai ahli fillsafat, ahli hidup, dan sekaligus sebagai orang yang bijaksana. Karena itu, pada giliran selanjutnya, orang tersebut akan mendapatkan kehidupan yang bahagia.
Sedangkan tujuan khususnya adalah menjadikan manusia yang berilmu. Dalam hal ini, ahli filsafat dipandang sebagai orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan (ilmuwan), yang selalu mencari kenyataan kebenaran dari semua problem pokok keilmuwan.
Perbedaan orang yang berfilsafat dengan yang tidak berflsafat terletak pada sikap seseorang terhadap hidupnya. Karena filsafat akan mengajarkan kepada kita tentang kesadaran, kemauan, dan kemampuan manusia sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk individu, makhluk social, dan makhluk Tuhan untuk diaplikasikan dalam hidup, maka yang diperlukan dalam studi filsafat adalah sebagai berikut.
Sikap yang sesuai. Sikap yang dimaksud adalah berusaha untuk mengobjektivikasikan dirinya, serta memandang perlu hal yang dipelajari. Sikap “memandang perlu” ini dapat menimbulkan dampak positif, yaitu adanya keseriusan dan kesatuan kehendak dalam pribadinya.
Kepribadian yang sesuai. Kepribadian yang dimaksud adalah berusaha untuk memperoleh suatu kepribadian yang sesuai. Sehingga sikap yang telah disesuaikan tersebut (yang pertama) akan mempunyai arah tertentu dalam pembentukan kepribadiannya selaras dengan sikap yang telah diperoleh. Berhasil atau tidaknya seseorang dalam memperoleh “kepribadian” tersebut tergantung pada kemauan dan kemampuan untuk memperoleh kepribadian sebagai ahli filsafat, dan melakukan secara terus-menerus.

B. ISI
Bab I merupakan sebuah pengantar yang memberikan penjelasan tentang filsafat umum itu sendiri. Dalam bab ini penulis mengungkapkan pengertian tentang filsafat, dalam buku ini menjelaskan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Yunani filosofia, yang berasal dati kata kerja filsofein yang berarti mencintai kebijaksanaan.  Serta menjelaskan konsep-konsep para filosof tentang filsafat. Seperti Plato yang memberikan istilah dengan dialektika. Kemudian Cicero menyebutkannya sebagai “ibu dari semua seni” (the mother of all the arts). Juga sebagai arts vitae yaitu filsafat sebagai seni kehidupan. Adapun John Dewey sebagai tokoh pragtisme, John Dewey  berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecendrungan-kecendrungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Serta dari berbagai konsep diatas masih dapat ditambah lagi hingga berpuluh-puluh definisi (batasan pengertian filsafat). Kenyataannya, dari keragaman batasan pengertian filsafat tersebut melahirkan persoalan tersendiri yang membingunkan, sehingga konsep filsafat itu mempunyai pengertian yang multidimensi.
Kemudian dalam buku filsafat umum ini mengungkapkan filsafat sebagai ilmu yang bergerak dari tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat. Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidak harus ada/aksidensia), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.
Objek filsafat menjadi dua, yaitu objek materi dan objek forma. Yang disebut objek materi adalah hal atau bahan yang diselidiki (hal yang jadi sasaran penyelidikan). Sedangkan objek forma adalah sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang.
Ciri-ciri pemikiran filsafat menurut Clarence I. Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal.
Selain itu, Asmoro Achmadi juga memaparkan masalah cabang-cabang filsafat yang meliputi metafisika, epistemologi, logika, etika dan sejarah filsafat. Menurut Aristoteles, Metafisiska adalah cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari soal tentang watak, batas-batas, dan berlakunya ilmu pengetahuan.  Sedangkan etika adalah kajian filsafat tentang nilai, nilai adalah suatu kualitas yang kita berikan kepada sesuatu (objek) sehingga sesuatu itu dianggap bernilai atau tidak bernilai. Tak lupa ia menjelaskan masalah kedudukan ilmu, filsafat, dan agama yang saling berhubungan, serta manfaat mempelajari filsafat itu sendiri. Di akhir pembahasan bab I ia menjelaskan metode-metode filsafat dan sejarah kelahiran filsafat dari masa Yunani sampai abad ke-20.
Pada bab II terdapat pembahasan filsafat Yunani yang terbagi menjadi dua yaitu Yunani kuno dan Yunani klasik. Pada masa Yunani kuno dan para pemikir filsafat Yunani berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia kecil. Mereka kagum terhadap alam yang penuh nuansa dan ritue dan berusaha mencari jawaban atas apa yang ada di belakang semua misteri itu  dan yang kemudian muncul para filosof seperti Thales, Anaximandros, Pythagoras dan sebagainya dengan berbagai teori mereka masing-masing. Kemudian masa Yunani klasik yang menunjukan perkembangan filsafat yang semakin pesat. Tokohnya seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Pada bab III terdapat pembahasan mengenai filsafat barat abad pertengahan dimana filsafat Eropa merupakan sesuatu yang baru, pohon filsafat masih yang lama (dari Yunani), tetapi tunas yang baru (karena pengaruh agama Kristen) memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan yang rindang.  Masa abad pertengahan ini dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa patristik (pemimpin gereja), masa skolastik (aliran yang berkaitan dengan sekolah, ilmu pengetahuan atau agama), dan masa peralihan.
Selanjutnya pada bab IV terdapat pembahasan tentang filsafat India, Tiongkok, Islam, dan Indonesia. Filsafat India yang terbagi ke dalam lima zaman, yaitu zaman weda, wiracita, sastra sutra, kemunduran, dan zaman pembaharuan. Filsafat Tiongkok yang terbagi ke dalam dua aliran yang meliputi aliran confusianisme dan aliran taoisme. Sedangkan filsafat Islam terbagi ke dalam tiga aliran yaitu, periode mu’tazilah, periode filsafat pertama, dan periode filsafat kedua. Dan yang terkahir adalah filsafat Indonesia yang memuat lima bentuk filsafat Indonesia yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.
Pada bab V terdapat pembahasan filsafat modern. Pada bab ini ia mengungkapkan berbagai aliran pemikiran dalam era filsafat modern. Bermula dari William Ockham (1295-1349), yang mengetengahkan Via Moderna (jalan modern) dan Via Antiqua (jalan kuno). Akibatnya, manusia didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan sesuatu yang mengagumkan  yang kemudian dilanjutkan dengan era filsafat abad  ke-20 sehingga muncullah aliran-aliran tersebut. aliran-aliran itu seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, positivisme, evolusionisme, materialisme, neo-kantianisme, pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi, eksistensialisme, dan neo-thomisme.
Pada bab VI terdapat pembahasan filsafat dewasa ini. Sekarang ini terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang mempunyai pengaruh besar, tetapi aliran-aliran ini belum dapat dikatakan sebagai aliran yang membuat sejarah. Hal ini terjadi karena aliran-aliran ini masih dianggap baru. Kedua aliran tersebut adalah filsafat analitis dan filsafat strukturalis.
Terakhir pada bab VII terdapat pembahasan yang menjelaskan aktualisasi filsafat. Dalam hal ini, Paradigma baru belajar filsafat saat ini, ilmu filsafat tidak hanya sekedar mempelajari berbagai pemikiran filsuf, seperti: Plato, Aristoteles, Rene Descartes, Al-Ghazali, hingga Ranggawarsita Pujangga Jawa, tetapi ilmu filsafat memiliki kemampuan untuk membangun kehidupan yang lebih sejahtera, damai, dan selamat dunia akhirat. Aktualisasi filsafat ke terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu aktualisasi filsafat sebagai ilmu, aktualisasi filsafat sebagai cara berpikir, aktualisasi filsafat sebagai pandangan hidup, dan aktualisasi filsafat sebagai pemikiran yang reflektif.

C. PEMBAHASAN
Penjelasan pada buku ini menarik dan sedikit mudah dicerna oleh saya, terlebih ada  catatan kaki pada tiap bab pembahasannya. Buku ini juga tidak terlalu tebal dan ringan, sehingga memudahkan para pembaca untuk membawa buku ini ke mana pun dan lumayan terdapat banyak pembahasan dalam buku ini.
Selain itu, buku ini juga memiliki isi yang tersusun dengan baik. Penulis mulai berbicara pada hal-hal yang sederhana dan mendasar seperti yang pada bab pertama tentang apa itu filsafat, bab dua tentang filsafat Yunani dan seterusnya sudah mulai masuk ke pembahasan sejarah filsafat, mulai dari filsafat yunani, filsafat abad pertengahan, pemikiran filsafat di timur, hingga filsafat modern. Setidaknya beberapa informasi berhasil disusun penulis sebagai bekal untuk memahami apa yang dibicarakan pada bab berikutnya.
Sayangnya sebagai orang awam, saya tidak dapat memberikan pendapat tentang relevansi pokok-pokok ide yang disampaikan penulis terhadap sejarah filsafat itu sendiri. Buku ini sekedar menjadi penambah pengetahuan bagi saya. Memang membaca buku filsafat tidak semudah membaca novel, roman apalagi komik. Dibutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi untuk membaca dan memahami maksud yang disampaikan penulis.
Dilihat dari desain sampulnya, buku ini kurang menarik. Walau pemilihan warna oranye yang mendominasi sampul buku ini dan dengan desain yang mengaplikasikan bentuk huruf kuno semi abstrak yang menguraikan sedikit tentang filsafat sangat erat maknanya dengan filsafat itu sendiri. Karena saya menganggap buku ini sebagai buku yang ditujukan untuk umum, seharusnya desain sampulnya lebih ramai dengan ilustrasi atau gambar latar benda abstrak sekalipun.
Secara keseluruhan, buku ini layak untuk ingin tahu tentang filsafat.

D. KESIMPULAN
Seperti yang kita ketahui, bahwa filsafat merupakan dasar dari segala ilmu pengetahuan, seperti sains dan sebagainya. Dalam hal ini mempelajari filsafat sangat penting agar pemahaman kita terhadap ilmu tidak melenceng.

E. DAFTAR PUSTAKA
Brouwer. et. al. 1986. Sejarah filsafat Modern dan Sezamannya. Alumni. Bandung.
Endang Daruni. et. al. 1982. Filsuf-filsuf Dunia Dalam Gambar. Yogyakarta: Karya Kencana.
The Liang Gie. 1991. Suatu Konsepsi Ke Arah Penertiban Bidang Filsafat. Yogyakarta: Karya Kencana.
Poedjawijatna. 1966. Pembimbing ke Alam Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan.
C. I. Lewis. 1929. Mind and the World-Order: Outline of a Theory of Knowledge.
Samuel Smith. 1986. Gagasan-gagasan Besar Tokoh-tokoh dalam Bidang Pendidikan, alih bahasa siapa?, Jakarta: Bumi Aksara.
https://www.google.co.id/amp/s/rifkaputrika.wordpress.com

7 comments: