Essay ujian akhir semester
Soal ujian yang dipilih:
Soal 1
Para teolog islam (disebut juga mutakallimun, ahli ilmu kalam) memperbincangkan persoalan kekuatan akal dan wewenang wahyu. Sebagian mereka memberikan penekanan pada wahyu, tetapi mengabaikan akal, tetapi sebagian lain sebaliknya, yakni memberikan peranan besar kepada akal dan memandang wahyu hanya pelengkap. Menurut anda, haruskah akal dan wahyu selalu dipertentangkan?
Nama
: Salma Monica
Mata Kuliah
: Teologi Islam (Pengantar)
Dosen
: Asep Muhamad Iqbal, Ph.D.
Program Studi
: S1 Ilmu Quran dan Tafsir
Semester dan Tahun Akademik
: 1, Ganjil 2017-2018
Tanggal dan jam pengiriman essay UTS ini
: 30 Desember 2017, 13.00 (1 siang)
Pernyataan Tidak Melakukan Plagiarisme
Saya menyatakan bahwa semua bahan yang saya tulis dalam essay ini adalah karya saya sendiri. Hal-hal berupa gagasan, data, dan sebagainya yang bukan karya saya ditulis sebagai kutipan (langsung atau tidak langsung) dengan rujukan yang benar kepada sumbernya. Saya mengerti bahwa bila tugas ini diketahui mengandung unsur plagiarisme, maka saya bersedia menanggung konsekwensinya.
Nama
: Salma Monica
Tanggal
: 30 Desember 2017
Haruskah akal dan wahyu selalu dipertentangkan?
Oleh Salma Monica
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal, sebagai daya berpikir yang ada diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Kalau kita selidiki buku-buku klasik tentang ilmu kalam akan kita jumpai bahwa persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu ini dihubungkan dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama ialah soal mengetahui Tuhan dan masalah kedua soal baik dan jahat. Masalah pertama bercabang dua menjadi pengetahuan mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan yang dalam istilah Arab disebut husnul ma’rifah Allah dan wujud ma’rifah Allah. Kedua cabang dari masalah kedua ialah: mengetahui baik dan jahat, dan kewajiban megerjakan perbuatan baik dan kewajiban menjahui perbuatan jahat atau ma’rifah al-husn wa al-qubh dan wujub i’tinaq al-hasan wa ijtinab al-qabih, yang juga disebut al tahsin wa al-taqbih.
Akal adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia, oleh kerena ia sajalah yang membedakan manusia dari makhluk yang lain. Akal pikiran merupakan suatu nikmat dari Allah yang tiada taranya diberikan kepada manusia. Dengan akalnya manusia berusaha mengatasi setiap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya membuat perencanaan dalam hidupnya melakukan pengajian dan penelitian, yang akhirnya menjadikan manusia yang unggul di muka bumi ini.
Wahyu merupakan penolong bagi akal untuk mengetahui alam akhirat dan keadaan hidup manusia nanti. Wahyu juga memberikan kepada akal informasi tentang kesenangan dan kesengsaraan serta bentuk perhitungan yang akan dihadapinya. Dalam pendapatnya Harun Nasution menyatakan bahwa wahyu menjadi pemberi informasi kepada akal dalam mengatur masyarakat dalam mendidik manusia agar hidup dengan damai sesamanya dan membukakan rahasia cinta yang menjadi kententraman hidup dalam bermasyarakat. Wahyu juga membawa syari’at yang mendorong manusia untuk melaksanakan kewajiban.
Substansi akal bagi Ibn Thufayl menunjukkan perana akal dalam terhadap apa yang terjadi dengan alam sekitar. Wahyu pun bersubstansi sebagai informasi bagi akal untuk mencapai pengetahuan yang hakiki yakni tentang adanya Tuhan.
Sejatinya substansi dari akal memiliki peran lebih dari wahyu bagi manusia karena akal merupakan daya yang tertanam dalam tubuh manusia. Sedangkan wahyu hanya manusia yang dianugrahkan secara khusus untuk mendapatkan wahyu dari Tuhan.
Memang dalam pandangan filsafat akal banyak dipakai dan dianggap lebih besar dayanya dari apa yang diungkapkan teolog, sebab ini sesuai dengan pengertian filsafat ialah memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya tentang wujud. Bagi filsuf, hubungan akal dan wahyu, antara filsafat dan agama tidak ada pertentangan. Walaupun telah terjadi berbagai hujatan bahwa filsafat bertentangan dengan agama, namun para filsuf berusaha dengan sekeras mungkin untuk menunjukkan bahwa filsafat pada prinsipnya tidak bertentangan dengan agama.
Hampir setiap filsuf islam berbicara mengenai akal dan wahyu, terutama al-Kindi yang pertama kali berpendapat bahwa akal dan wahyu atau filsafat dan agama tidak ada pertentangan. Dasar pemikirannya ialah bahwa keduanya mengandung kebenaran yang sama. Dalam pandangan al-Kindi filsafat ialah pembahasan tentang kebenaran yang sama. Dalam pandangan al-Kindi filsafat ialah pembahasan tentang kebenaran yang tidak hanya diketahui tetapi diamalkan.
Dengan demikian antara agama dan filsafat ada penyesuaian, yang mana keduanya membahas kebenaran dan kebaikan dengan membawa argumen-argumen yang kuat. Agama dan filsafat membahas subyek yang sama dan memakai metode yang sama, sehingga yang menjadi perbedaan hanya cara memperoleh kebenaran yakni filsafat dengan cara menggunakan akal sedangkan agama dengan wahyu.
Sejatinya argumen-argumen yang dibawa al-Qur’an memang lebih meyankinkan dari pada argument-argumen yang diajukan filsafat, tetapi hal ini bukan menjadi salah satu masalah dalam mencapai pengetahuan sebab diantara keduanya memiliki tujuan yang sama yakni kebenaran. Kebenaran yang diberitakan wahyu tidak berlawanan dengan dibawa filsafat, sehingga mempelajari filsafat bukanlah hal yang dilarang Tuhan, sebab teologi merupakan bagian dari filsafat serta umat islam diharuskan belajar tauhid.
Al-Kindi juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang termulia atau tertinggi martabatnya, agama juga mengenai ilmu tetntang kebenaran daripada kebenaran itu sendiri, orang yang mengingkari kebenaran, dan oleh karenanya ia menjadi kafir. Dalam risalahnya yang ditunjukkan kepada Al-Muktasin ia menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang termulia serta terbaik dan yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berfikir. Kata-katanya ini ditunjukkan kepada mereka yang menentang filsafat dan mengingkarinya, karena dianggap sebagai ilmu kafir dan menyiakan jalan kepada kekafiran. Sikap mereka inilah yang selalu menjadi rintangan bagi filosof Islam. Jadi, disini jelas bahwa menurut Al-Kindi antara akal dan wahyu atau dalam bahasa lain antara filsafat dan agama itu tidak ada pertentangan.
Filsuf Islam lain yang juga memiliki pandangan bahwa antara akal dan wahyu atau antara filsafat dan agama tidak bertentangan yaitu Ibn Sina, menurutnya nabi dan filsuf menerima kebenaran-kebenaran dari sumber yang sama yakni jibril, biasa disebut sebagai akal aktif. Perbedaan hanyalah terdapat pada hubungan Nabi dan Jibril melalui akal dan materi, sedangkan filsuf melalui akal perolehan harus dengan usaha yang keras dan latihan yang berat, adapun Nabi memperoleh akal yang dayanya jauh lebih kuat dari akal perolehan. Karena daya yang kuat inilah oleh karena itu Tuhan hanya memberi daya tersebut kepada orang-orang pilihan-Nya.
Ibn Tufayl juga berpendapat bahwasannya akal dan wahyu itu tidak bertentangan, dengan konsep Harmonisasinya ia menunjukkan kalau akal dan wahyu itu tidak bertentangan. Dalam pencapaian pengetahuan tentang Tuhan terdapat dua jalan untuk mengenal-Nya, yakni, dengan jalan akal atau dengan jalan syari’at. Kedua jalan tidaklah bertentangan, karena akhir dari falsafat adalah pencapaian pada pengetahuan tentang Allah.
Harmonisasi filsafat Ibn Tufayl menggambarkan kepada manusia bahwa kepercayaan kepada Allah adalah satu bagian dari fitrah manusia yang tidak dapat disangkal dan bahwa akal yang sehat dengan memerhatikan dan merenungkan alam sekitarnya tentu akan sampai kepada Tuhan.
Sebagai kesimpulan akal dan wahyu tidak harus selalu dipertentangkan, karena beberapa filsuf Islam seperti Al-Kindi , Ibn Sina dan Ibn Tufayl memiliki pandangan bahwa antara akal dan wahyu tidak bertentangan. Terutama Al-Kindi yang pertama kali berpendapat bahwa akal dan wahyu atau filsafat dan agama tidak ada pertentangan. Dasar pemikirannya ialah bahwa keduanya mengandung kebenaran yang sama. Dengan demikian antara agama dan filsafat ada penyesuaian, yang mana keduanya membahas kebenaran dan kebaikan dengan membawa argumen-argumen yang kuat. Agama dan filsafat membahas subyek yang sama dan memakai metode yang sama, sehingga yang menjadi perbedaan hanya cara memperoleh kebenaran yakni filsafat dengan cara menggunakan akal sedangkan agama dengan wahyu.
Referensi
Buku reader/module teologi Islam dosen Asep Muhammad Iqbal 2015.
Sapei, Achmad. 2010. Akal dan Wahyu dalam Pandangan Ibn Thufayl. Jakarta: Universitas Islam Negeri.
Kartanegara, Mulyadi. 2006. Gerbang Kearifan : sebuah pengantar filsafat islam. Jakarta: Lentera Hati.
Dahlan, Aziz, Abdul. 2007. “Filsuf”. Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Pemikiran dan Peradaban. Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve.
Nasution, Harun. 1987. Falsafat dan Mistisime dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Sudarsono. 2010. Fisafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Madkour, Ibrahim. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam, terj. Yudian W. Asmin. Jakarta: Bumi Aksar.